Postingan

RESPON

Respon itu bagaimana sikap kita terhadap sesuatu, terhadap orang lain. Respon itu termasuk bagaimana ekspresi kita pada orang lain saat berinteraksi dengan orang lain. Kini aku paham bahwa ‘respon’ yang kita berikan kepada orang lain dapat menjadi ladang pahala bagi kita dan kupahami itu setelah mencoba menjadi makhluk sosial seutuhnya. Bersalaman, berbicara, berbaur, bertanya pada orang lain, dan aktivitas lainnya. Ada sebuah ‘respon’ yang mungkin orang lain anggap biasa namun bagiku luar biasa: Saat kemarin selesai kuliah, aku beranikan diri menghampiri profesorku yang baru saja mengajar 2 jam 40 menit di kelas. Aku bertanya mengenai bagaimana ekonomi masyarakat di zona penyangga, bagaimana pengambilan data untuk ekonomi, bagaimanakah data primer dan sekundernya. Lalu aku jelaskan kepada beliau amanah yang saat ini sedang aku emban. Respon beliau begitu membangkitkan semangatku. Beliau mengatakan “Bagus itu, saya senang. Kalau mau hubungi kontak Whatsapp saya saja.” Kalau kamu yan...

Mengapa?

Gambar

Kita sekarang

Gambar

Proses indah itu bernama hijrah

Gambar

Yang Terlupakan

Ada impian yang terlupakan Lalu impian tersebut muncul kembali dan mengingatkan Lalu membuat air mata menetes Sebab dia terlalu jauh ditinggalkan Terlalu jauh namun tidak membuat semakin terpuruk Membuat semakin sadar Bahwa semangat itu masih ada Asa itu masih setia berada di lubuk hati Sebuah pemandangan yang diharapkan Senyuman lebar dengan dikelilingi  apa yang sudah berhasil raih Tapi Jangan lupakan Bahwa sedih selalu ada selama perjalanan Pengorbanan selalu hadir sebagai batu loncatan Semua keringat dan letih selalu menunggu di tiap perjalanan Namun di akhir perjalanan merekalah yang menambah manis senyum itu tolong Tolong Jangan menyerah Jangan menyerah lagi Kita boleh gagal, tapi jangan menyerah untuk mencoba dan terus berusaha meraih impian kita

Pengingat

Pengingat bak oase yang berada di tengah kegersangan. Bak rambu lalu lintas yang berada di sepanjang jalan. Bak senter yang menerangi jalan gelap gulita. Pengingat. Begitu hangat. Hingga ia tepat mengena. Mengena kepada yang ia ingatkan. Ini cerita tentang diri yang perlahan jauh tanpa sadar. Diri yang menutup karena merasa ia tak butuh. Diri yang hina namun Allah yang Maha Baik tak menjauhi, Allah berikan diri nikmat dengan hadirnya seorang pengingat. Aku jauh, kesibukan kegiatan kuliah menjadi prioritas. Aku jauh, saat diajak berkumpul pada majelis yang InsyaAllah di ridhoiNya aku tak hadir, berdalih ada yang lebih penting. Aku jauh, tembok pembatas mulai runtuh, menggoda untuk aku lewati dan berjalan lebih jauh lagi. Lalu ingat indahnya berkumpul dalam kebaikan membuatku menoleh kembali. "Aku sudah terlalu jauh. Aku perlu kembali." Tapi aku merasa sudah benar jauh. Lalu pengingat itu hadir, memanggilku untuk kembali. Aku tak bergeming. Pengingat itu menghampiriku, mera...

Karena Allah Cukup Bagiku

Rasa kecewa, ia hadir karena pengharapan pada manusia. Rasa gelisah, ia hadir karena kepercayaan pada manusia Bahwa mereka mengatakan bersama namun nyatanya tidak Melangkah maju namun sendirian Mengajak maju namun tak diikuti Dicari kata-kata yang pas ternyata sulit ya :) Mencari nilai hidup itu yang kucari, nilai yang kupercaya sebagai 'passing grade'ku kelak dihadapanNya. Suatu pergerakan skala besar memang mengutamakan kerja tim. Tapi jangan harap, kamu dapat menemukan satu frekuensi yang sama. Karena alasan untuk terlibat tiap orang berbeda. Itu hikmah yang didapat, ketika aku merasa bergerak sendiri. Lalu mempertanyakan Apakah kemurnian amanah tidak sejalan dengan idealisme diri sehingga ia mudah dinodai? Atau adanya kemungkinan, kenyamanan diri tidak ditemukan sehingga ia (amanah) ditinggalkan? Nyatanya, pertanyaan-pertanyaan tersebut bagaikan racun. Racun yang merusak kemurnian hati. Merusak muhasabah diri karena tak dipungkiri, hal itu pernah terjadi pada di...