Telat Membangun Dinding
Dinding kakak-kakak itu tinggi sekali. Dinding yang dibangun dari keteguhan iman mereka. Melindungi hati mereka dari yang seharusnya tak perlu ada. Untuk menjaga hati. Mereka tak bergeming, tetap bertahan walau aku tidak tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan. Kakak-kakak itu, begitu keras pada diri. Tidak membiarkan ada celah sedikit pun. Bagiku yang terbiasa, komunikasi tidak kuhindari selagi memang semuanya hanya bercanda dan ngobrol, pikirku. Tapi sungguh, aku melupakan pihak kedua dan menyepelakan hal kecil yang ternyata dampaknya begitu rumit. Sekarang aku paham, inikah rasanya tidak tahu perasaan dan maksud dari pihak kedua? Bagiku, untuk belajar menjaga hati, tidaklah mudah. Berusaha membangun dinding kala sudah ada yang masuk. Ini karena aku menyepelakan hal kecil tersebut. Kini hal kecil sudah tumbuh menjadi besar. Aku pikir dapat membuangnya keluar, tapi ternyata malah terasa begitu perih. Kini aku mengerti alasan mengapa kakak-kakak itu membangun dinding sedemikian tingg...