Postingan

Dalam spekulasi

Setahun sudah. Bagiku kala itu cukup dijadikan pembelajaran, sebagai pengingat. Tapi, setahun tetap berjalan dan meninggalkan awal yang lalu.
Hingga kamu dan spekulasi yang kusebut serba-tidak-enakan serta aku dan spekulasi yang kusebut biarkan-berlalu-saja. Namun spekulasiku berubah, tidak. Tepatnya aku paksa ubah, menjadi spekulasi yang kuharap dapat mematikan pikiran dan hati yang seharusnya tidak perlu ada tentangmu. "Semua orang menanyakan, bagaimana kamu bisa begitu? Seharusnya tidak!" Sanggup jawab apa aku? (Continue)

Telat Membangun Dinding

Dinding kakak-kakak itu tinggi sekali. Dinding yang dibangun dari keteguhan iman mereka. Melindungi hati mereka dari yang seharusnya tak perlu ada. Untuk menjaga hati. Mereka tak bergeming, tetap bertahan walau aku tidak tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan. Kakak-kakak itu, begitu keras pada diri. Tidak membiarkan ada celah sedikit pun. Bagiku yang terbiasa, komunikasi tidak kuhindari selagi memang semuanya hanya bercanda dan ngobrol, pikirku. Tapi sungguh, aku melupakan pihak kedua dan menyepelakan hal kecil yang ternyata dampaknya begitu rumit. Sekarang aku paham, inikah rasanya tidak tahu perasaan dan maksud dari pihak kedua? Bagiku, untuk belajar menjaga hati, tidaklah mudah. Berusaha membangun dinding kala sudah ada yang masuk. Ini karena aku menyepelakan hal kecil tersebut. Kini hal kecil sudah tumbuh menjadi besar. Aku pikir dapat membuangnya keluar, tapi ternyata malah terasa begitu perih. Kini aku mengerti alasan mengapa kakak-kakak itu membangun dinding sedemikian tinggi…

Dia Panutan!

Ada yang bilang kita gak boleh melihat orang lain, kita harus maju dan fokus pada diri sendiri karena ketika kita melihat ke orang lain maka akan membuat kita underestimate diri sendiri. Akan tetapi, kembali lagi pada masing-masing pandangan. Bagaimana caramu memandang mereka?
Setiap orang punya sisi keunggulan dan juga kelemahannya. Kadang gak memungkiri kalau gue suka melihat ke teman, senior, junior, dan sebagainya dengan pandangan "ke atas". Ya, pasti pernah kepikiran "Kok dia bisa rajin banget, kok gue engga. kenapa ya :(" "Wah dia bagus banget cara ngomongnya, cara berpenampilannya." dan sebagainya. Gue pun gak memungkiri kalau pernah menjadi underestimate ke diri sendiri, memandang diri lebih rendah dari mereka. Menurut gue ini ada dampak bagus dan ada dampak buruknya, yang sejauh ini gue rasa.
Mari ambil kasus perkataan "Udah cantik, pinter, sholeh, aktif lagi" ya, kalimat ini dampaknya tergantung kita sendiri dengan bagaimana kalimat ya…

Untuk ‘sedikit’ peduli

Kau berucap padaku “Untuk apa peduli ketika bahkan mereka tidak peduli? Untuk apa peduli ketika dunia tak akan membaik? Untuk apa peduli namun berbalas rasa sakit?”    Ah iya, barangkali sebab kemuakanmu pada sikap orang terhadapmu, barangkali sebab sakit hatimu, dan barangkali karena jatuhnya ekspektasimu.    Tapi, aku yakin kau tahu bahwa dunia tidak hanya berisi keegoisanmu. Tunggu, bukan keegoisan namun ketidakpedulianmu. Apa benar merasa peduli ketika berharap mendapat balasan yang memuaskan?    Kamu berucap lagi setelah merasa enggan mencoba “Terserahku, terserah kenyamananku.”    Aku rasa bukan itu bagian dari indahnya hidupmu.    Hei, kita hanya perlu berusaha lebih untuk memahami. Dan tentu, ditambah dengan keikhlasan.

   Sedikit pemikiran: Kepuasan bukan hanya dari apa yang kau terima namun dari apa yang kau beri .   Hidup itu selalu ada-ada saja. Sungguh ada-ada saja. Tiap harinya akan menemukan suatu kisah dengan bumbu rintangannya. Baik itu pekat terasa ataupun yang hamba…

How to be 'positive' and happy with the easiest way

Well, i don't have a deep knowledge nor i am a good motivator. nah. I just wanna tell about... 'trying to be a happy person everyday', even you have a big problem that needed to be solved.  What inside my mind and my heart is-'positive' and happy with the easiest way by smiling to our brother's/sister's/friend's/etc face. it's really work, it's affect our heart an boost our mood especially when they are also smiling.  is it hard for you to smile? just give it a try! sometimes, one thing that makes us afraid to smiling is 'suudzon' (negative thinking) to others. we afraid they will not response us with big and cheerful smile the same like we do. We afraid they will give us a flat expression, or we afraid they think we are an overact person. just don't care about what people think! if the smile is comes up from our deepest heart, even they not respond us, it is really okay because there is always benefit for ourselves, don't worry …

RESPON

Respon itu bagaimana sikap kita terhadap sesuatu, terhadap orang lain. Respon itu termasuk bagaimana ekspresi kita pada orang lain saat berinteraksi dengan orang lain. Kini aku paham bahwa ‘respon’ yang kita berikan kepada orang lain dapat menjadi ladang pahala bagi kita dan kupahami itu setelah mencoba menjadi makhluk sosial seutuhnya. Bersalaman, berbicara, berbaur, bertanya pada orang lain, dan aktivitas lainnya. Ada sebuah ‘respon’ yang mungkin orang lain anggap biasa namun bagiku luar biasa: Saat kemarin selesai kuliah, aku beranikan diri menghampiri profesorku yang baru saja mengajar 2 jam 40 menit di kelas. Aku bertanya mengenai bagaimana ekonomi masyarakat di zona penyangga, bagaimana pengambilan data untuk ekonomi, bagaimanakah data primer dan sekundernya. Lalu aku jelaskan kepada beliau amanah yang saat ini sedang aku emban. Respon beliau begitu membangkitkan semangatku. Beliau mengatakan “Bagus itu, saya senang. Kalau mau hubungi kontak Whatsapp saya saja.” Kalau kamu yang …